June 10, 2026

Viral !! Jawaban Sama Nilai Beda di LCC MPR Kalbar, Publik Heboh Soroti Dewan Juri

028858600_1778497603-03c64b4f73069593aac03f5f6935f5a72384f1b7
Bagikan Juga ke

Website Sang Pencerah – Riuh tepuk tangan dan semangat kompetisi yang semestinya menjadi penutup manis Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat justru berubah menjadi perdebatan panas yang menyita perhatian publik nasional. Potongan video dari babak final lomba itu mendadak viral di media sosial. Bukan karena aksi peserta yang spektakuler, melainkan akibat keputusan dewan juri yang dianggap tidak konsisten saat memberikan penilaian kepada dua kelompok peserta dengan jawaban yang dinilai sama persis.

Publik pun ramai memperbincangkannya. Dari TikTok hingga X, warganet mempertanyakan objektivitas penilaian dalam ajang yang membawa nama pendidikan kebangsaan tersebut. Di tengah derasnya sorotan publik, Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar Supratman akhirnya angkat bicara. Ia menyampaikan permohonan maaf atas polemik yang terjadi dan memastikan evaluasi total akan dilakukan terhadap sistem perlombaan maupun dewan juri.“Kami mohon maaf atas kelalaian dewan juri. Kami akan tindak lanjuti kejadian ini,” ujarnya kepada wartawan, Senin (11/5/2026).

Momen yang Memicu Kontroversi

Insiden bermula saat babak final mengajukan pertanyaan mengenai pertimbangan yang wajib diperhatikan DPR dalam memilih anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Kelompok C dari SMAN 1 Pontianak menjadi peserta pertama yang menjawab.Dengan penuh percaya diri, peserta menyampaikan bahwa anggota BPK dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan Presiden.Namun di luar dugaan, salah satu dewan juri memberikan nilai minus lima kepada kelompok tersebut. Situasi mulai memanas ketika giliran Kelompok B dari SMAN 1 Sambas menjawab pertanyaan yang sama dengan redaksi jawaban yang nyaris identik. Kali ini, dewan juri justru memberikan nilai sempurna 10 poin.

Keputusan itu langsung memancing protes dari peserta Grup C. Mereka merasa jawaban yang diberikan tidak berbeda dengan jawaban lawan.“Tadi kami menjawabnya sama seperti regu B,” protes salah satu peserta.Namun, pihak juri menyatakan terdapat perbedaan pada penyebutan unsur DPD yang dianggap tidak terdengar jelas saat Grup C menjawab.

Soal Artikulasi Jadi Perdebatan

Dalam penjelasannya, dewan juri menekankan bahwa artikulasi dan kejelasan pengucapan menjadi bagian penting dalam penilaian lomba.Menurut juri lain, peserta sebenarnya sudah diingatkan sejak awal agar menyampaikan jawaban dengan pelafalan yang jelas sehingga tidak menimbulkan bias penilaian. Pernyataan tersebut justru memunculkan diskusi baru di kalangan publik. Banyak yang menilai bahwa jika masalah utama berada pada kualitas suara atau kejelasan audio, maka sistem perlombaan seharusnya memiliki mekanisme verifikasi yang lebih adil.

Beberapa warganet bahkan menyarankan penggunaan rekaman ulang audio atau sistem challenge seperti dalam pertandingan olahraga profesional untuk memastikan keputusan juri tetap objektif.

Evaluasi Total Jadi Sorotan

Akbar Supratman menegaskan bahwa peristiwa ini tidak boleh dianggap sepele. Ia mengaku menerima informasi bahwa kejadian serupa pernah terjadi pada pelaksanaan lomba di daerah lain pada tahun sebelumnya. Karena itu, evaluasi menyeluruh akan dilakukan, mulai dari kualitas tata suara, standar penilaian, hingga mekanisme banding bagi peserta.

Menurutnya, lomba yang membawa semangat Empat Pilar Kebangsaan semestinya juga mencerminkan nilai keadilan, transparansi, dan profesionalitas.Polemik ini pun menjadi pelajaran penting bahwa dalam sebuah kompetisi pendidikan, bukan hanya kecerdasan peserta yang diuji, tetapi juga integritas sistem yang menopangnya.

Di balik viralnya insiden tersebut, publik kini berharap LCC Empat Pilar ke depan tidak hanya menjadi ajang adu wawasan kebangsaan, tetapi juga contoh bagaimana sebuah kompetisi dijalankan secara jujur, adil, dan akuntabel. (Red)


Bagikan Juga ke