August 8, 2026

Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah Dibuka, Saat Perempuan Muda Menyalakan Cahaya Peradaban Berkelanjutan

file_0000000075688211b5454d46f16cfe18
Bagikan Juga ke

Website Sang Pencerah — Ribuan perempuan muda dari berbagai penjuru Nusantara memadati Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jumat (7/8/2026). Dari wajah-wajah penuh semangat yang datang dari kota besar hingga pelosok daerah, tersirat satu harapan yang sama: menghadirkan masa depan yang lebih baik melalui gerakan perempuan muda berkemajuan.

Hari itu bukan sekadar seremoni pembukaan organisasi. Lebih dari itu, Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah menjadi panggung besar konsolidasi gagasan, penguatan komitmen, sekaligus peneguhan peran perempuan muda Muhammadiyah dalam menjawab tantangan zaman. Mengusung tema Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan, Muktamar hadir sebagai ruang perjumpaan antara idealisme, pengalaman, dan ikhtiar kolektif untuk membangun peradaban yang lebih manusiawi.

Suasana pembukaan berlangsung semarak. Ribuan kader mengenakan atribut organisasi dengan penuh kebanggaan. Kehadiran Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini, unsur pemerintah, serta tokoh-tokoh Muhammadiyah-‘Aisyiyah semakin menambah khidmat dan makna perhelatan akbar empat tahunan tersebut.Bagi Jawa Tengah, momentum ini memiliki arti tersendiri. Ketua Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Tengah, Monica Subastia, menyampaikan rasa syukur sekaligus kebanggaannya karena wilayahnya dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar.Dengan hangat ia menyambut para peserta yang datang dari seluruh Indonesia.“Kami membuka pintu rumah kami selebar-lebarnya untuk seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah se-Indonesia,” ujarnya.

Data panitia menunjukkan besarnya antusiasme kader. Sebanyak 875 peserta resmi mengikuti forum Muktamar, sementara sekitar 6.700 kader hadir dalam pembukaan. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan gambaran kuatnya energi perempuan muda Muhammadiyah yang terus tumbuh dan bergerak.

Di tengah derasnya perubahan dunia, Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Ariati Dina Puspitasari, mengingatkan bahwa Muktamar bukan hanya forum pergantian kepemimpinan. Baginya, Muktamar adalah ruang refleksi dan pembacaan zaman. Perempuan muda saat ini, menurut Ariati, hidup di tengah tantangan yang tidak sederhana. Transformasi digital mengubah cara hidup manusia. Dinamika keluarga mengalami pergeseran. Persoalan kesehatan mental semakin mengemuka. Ketidakpastian ekonomi menghantui generasi muda.

Di saat yang sama, krisis iklim menjadi ancaman nyata bagi masa depan dunia.Dalam situasi tersebut, organisasi perempuan muda dituntut tidak sekadar bertahan, tetapi juga mampu menjadi pelopor perubahan.“Semua itu menuntut organisasi perempuan muda seperti Nasyiatul Aisyiyah untuk tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mampu membaca zaman, beradaptasi, dan berinovasi untuk dakwah berkemajuan,” tegasnya.Pesan itu terasa relevan dengan karakter Nasyiatul Aisyiyah yang sejak awal berdiri dikenal sebagai ruang kaderisasi perempuan muda Muhammadiyah yang menggabungkan nilai keislaman, intelektualitas, dan kepedulian sosial.

Muktamar juga menjadi kesempatan bagi seluruh kader untuk kembali menengok akar perjuangan organisasi. Di tengah berbagai dinamika dan perubahan, ada nilai-nilai yang harus tetap dijaga: pengabdian kepada keluarga, umat, bangsa, dan kemanusiaan. “Muktamar adalah ruang untuk meneguhkan kembali niat. Tempat kami mengingat alasan mengapa organisasi ini didirikan,” tutur Ariati.Semangat keberlanjutan yang diusung Muktamar mendapatkan apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan Setda Provinsi Jawa Tengah, Syamsudin Isnaini, menilai tema yang diangkat sangat sesuai dengan kebutuhan pembangunan masa kini.Menurutnya, pembangunan berkelanjutan tidak hanya berbicara soal lingkungan hidup, tetapi juga mencakup ketahanan keluarga, kualitas sumber daya manusia, hingga terwujudnya masyarakat yang inklusif dan berkeadilan.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa peran perempuan muda tidak lagi ditempatkan sebagai pelengkap pembangunan, melainkan sebagai aktor utama yang mampu menentukan arah kemajuan bangsa.Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan pentingnya menjaga tradisi musyawarah dalam setiap proses pengambilan keputusan organisasi. Di tengah berbagai perbedaan pandangan yang mungkin muncul, Muktamar harus tetap menjadi ruang persaudaraan yang melahirkan keputusan terbaik.“Jadikan forum-forum Muktamar kita sungguh-sungguh untuk wasyawirhum fil amri. Itulah yang menjadi jiwa Muktamar-Muktamar kita yang berjalan baik,” pesannya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan Muhammadiyah dan organisasi otonomnya selama ini tidak hanya terletak pada besarnya jumlah anggota, tetapi juga pada budaya musyawarah yang mengedepankan hikmah, kebersamaan, dan kematangan berpikir.Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Berbagai agenda strategis telah menanti, mulai dari laporan pertanggungjawaban kepemimpinan, pembahasan isu-isu aktual organisasi, penyusunan program kerja, hingga pemilihan kepemimpinan baru periode 2026–2030.

Namun lebih dari sekadar agenda formal, Muktamar ini sejatinya adalah perayaan optimisme. Optimisme bahwa perempuan muda Indonesia memiliki kapasitas besar untuk menjadi penggerak perubahan. Optimisme bahwa dakwah berkemajuan akan terus menemukan jalannya melalui tangan-tangan generasi muda yang cerdas, berintegritas, dan peduli terhadap kemanusiaan.

Dari Surakarta, cahaya itu kembali dinyalakan. Cahaya yang tidak hanya menerangi ruang organisasi, tetapi juga menuntun langkah menuju peradaban yang berkelanjutan, berkeadilan, dan berkemajuan. (Red)


Bagikan Juga ke