August 8, 2026

Akidah NU dan Muhammadiyah: Benarkah Berbeda? Menjernihkan Salah Paham yang Kerap Berulang

file_0000000086bc8211b34c7d6040d83e4e
Bagikan Juga ke

Website Sang Pencerah – Di berbagai ruang diskusi umat Islam, baik di masjid, media sosial, maupun forum pengajian, pertanyaan tentang perbedaan akidah antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah seolah tidak pernah benar-benar selesai. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa keduanya memiliki akidah yang berbeda secara mendasar. Bahkan, sebagian orang menganggap NU dan Muhammadiyah sebagai dua aliran yang saling berseberangan. Namun, benarkah demikian? Jika ditelusuri lebih dalam, perdebatan tersebut sesungguhnya lebih banyak dipengaruhi oleh perbedaan praktik keagamaan dan cara memahami tradisi Islam daripada perbedaan akidah itu sendiri.

Satu Akidah, Beragam PendekatanBaik NU maupun Muhammadiyah sama-sama berdiri di atas fondasi Islam yang sama. Keduanya meyakini enam rukun iman sebagai pokok akidah Islam: iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, hari akhir, serta qada dan qadar. Dalam tradisi NU, akidah Ahlussunnah wal Jamaah dipahami sebagai akidah Islam yang diwariskan Rasulullah SAW, para sahabat, dan generasi ulama sesudahnya. Tokoh seperti Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi dipandang sebagai ulama yang berjasa merumuskan dan menjaga akidah Islam dari berbagai penyimpangan pemikiran pada masanya. Di sisi lain, Muhammadiyah juga menegaskan dirinya sebagai bagian dari Ahl al-Haq wa al-Sunnah atau Ahlussunnah wal Jamaah.

Muhammadiyah menempatkan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai rujukan utama serta mengembangkan ijtihad yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan perkembangan zaman. Dengan kata lain, pada level akidah dasar, NU dan Muhammadiyah berada dalam rumah besar yang sama: Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Mengapa Terlihat Berbeda?

Perbedaan mulai tampak ketika memasuki wilayah fikih, tradisi, dan metode dakwah. NU dikenal sebagai organisasi yang menjaga kesinambungan tradisi keagamaan yang telah hidup di tengah masyarakat selama berabad-abad. Tradisi seperti tahlilan, maulid, ziarah kubur, dan berbagai ekspresi budaya Islam Nusantara dipandang sebagai bagian dari sarana dakwah selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat. Muhammadiyah mengambil pendekatan yang berbeda. Organisasi yang didirikan oleh Ahmad Dahlan ini lebih menekankan pemurnian ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih. Karena itu, Muhammadiyah cenderung lebih selektif terhadap praktik keagamaan yang tidak memiliki dasar dalil yang kuat menurut hasil tarjihnya. Perbedaan inilah yang sering terlihat dalam praktik ibadah sehari-hari, mulai dari qunut Subuh, tahlilan, hingga penentuan awal Ramadan dan Syawal. Namun para ulama dari kedua organisasi sepakat bahwa perbedaan tersebut berada pada wilayah ijtihad dan fikih, bukan pada pokok keimanan.

Dari Perdebatan Menuju Kolaborasi

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, NU dan Muhammadiyah justru lebih sering berjalan beriringan dibandingkan berhadapan. Keduanya menjadi pilar penting pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, hingga perjuangan kemerdekaan bangsa. Muhammadiyah dikenal luas melalui jaringan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan gerakan dakwah berkemajuan. Sementara NU memiliki kekuatan besar dalam pengembangan pesantren, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan Islam moderat berbasis kearifan lokal. Di tengah berbagai tantangan zaman, mulai dari kemiskinan, ketimpangan pendidikan, hingga derasnya arus disinformasi keagamaan, perbedaan-perbedaan kecil yang bersifat khilafiyah sejatinya tidak perlu menjadi sumber perpecahan.

Menempatkan Perbedaan Secara Proporsional

Kesalahpahaman tentang perbedaan akidah NU dan Muhammadiyah sering kali muncul karena masyarakat mencampuradukkan antara akidah, fikih, tradisi, dan budaya. Padahal, akidah berbicara tentang keyakinan fundamental yang menjadi dasar keislaman seseorang. Sementara perbedaan yang tampak antara NU dan Muhammadiyah lebih banyak berada pada cara memahami teks agama, metode ijtihad, dan ekspresi keberagamaan di tengah masyarakat. Karena itu, pertanyaan Apakah akidah NU dan Muhammadiyah berbeda? sesungguhnya dapat dijawab dengan sederhana: tidak ada perbedaan mendasar dalam pokok-pokok akidah Islam yang dianut keduanya. Yang berbeda adalah pendekatan, metode, dan beberapa praktik keagamaan yang lahir dari tradisi ijtihad masing-masing.

Di tengah kehidupan bangsa yang majemuk, memahami fakta ini menjadi penting agar perbedaan tidak berubah menjadi prasangka, dan keberagaman cara beragama tetap menjadi kekuatan yang memperkaya khazanah Islam Indonesia. (Red)


Bagikan Juga ke