August 8, 2026

Surat MWCNU Kasembon Bikin Geger, KKN Universitas Muhammadiyah Malang Tetap Turun Membantu Masyarakat

file_0000000009bc81f8a37ce840ddb376a0
Bagikan Juga ke

Website Sang Pencerah – Di sebuah desa yang dikelilingi hamparan hijau perbukitan Malang Raya, aktivitas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) masih berlangsung seperti biasa. Mereka datang ke rumah-rumah warga, berdiskusi tentang pemberdayaan ekonomi, mengolah limbah peternakan, hingga membantu berbagai program kemasyarakatan. Namun, di tengah kegiatan pengabdian itu, sebuah surat yang beredar luas di media sosial mendadak menjadi perbincangan publik.

Surat yang diterbitkan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kasembon tersebut berisi imbauan agar mahasiswa KKN UMM tidak dilibatkan dalam sejumlah kegiatan keagamaan warga Nahdliyin. Isu itu cepat menyebar dan memantik beragam tanggapan. Di tengah derasnya arus komentar di media sosial, UMM memilih mengambil langkah yang tenang: tetap fokus pada pengabdian, menjaga komunikasi, dan memperkuat silaturahmi dengan masyarakat.

Kepala Divisi Pengabdian Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM, Arina Restian, membenarkan adanya surat yang menjadi perhatian publik tersebut. Menurutnya, surat itu memang memuat imbauan agar mahasiswa KKN tidak mengikuti kegiatan keagamaan yang diselenggarakan oleh warga Nahdliyin. Meski demikian, Arina menegaskan bahwa keberadaan surat tersebut tidak menghentikan program KKN yang sedang berjalan di Desa Kasembon. “Mahasiswa sudah aktif berkegiatan terlebih dahulu, kemudian muncul surat edaran tersebut,” ujarnya.

Bagi UMM, KKN bukan sekadar agenda akademik, melainkan ruang belajar sekaligus pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, program yang dijalankan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas keagamaan, tetapi juga mencakup berbagai bidang yang langsung menyentuh kebutuhan warga.Selama satu bulan pelaksanaan KKN, mulai 29 Juli hingga 30 Agustus 2026, mahasiswa UMM mengembangkan beragam program pemberdayaan. Mulai dari pengolahan limbah kotoran sapi menjadi briket, pembuatan pupuk, edukasi kesehatan, penguatan pendidikan masyarakat, hingga berbagai kegiatan sosial yang dirancang sesuai potensi desa.

Di lapangan, mahasiswa tetap berinteraksi dengan masyarakat tanpa memandang latar belakang organisasi keagamaan. Mereka hadir sebagai generasi muda yang belajar sekaligus mengabdi. UMM juga memilih mengedepankan dialog dan komunikasi dengan berbagai pihak. Koordinasi terus dilakukan bersama pemerintah desa maupun pengurus NU di tingkat ranting agar suasana tetap kondusif dan kegiatan pengabdian dapat berjalan sebagaimana mestinya. Langkah ini menunjukkan bahwa perbedaan tidak harus berujung pada jarak. Justru dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan dapat menjadi ruang untuk saling mengenal, memahami, dan bekerja sama demi kemaslahatan bersama. Di tengah dinamika yang berkembang, mahasiswa KKN tetap menjalankan aktivitas sehari-hari. Mereka mendatangi kelompok masyarakat, berdiskusi dengan peternak, membantu kegiatan edukasi, serta menjalankan program-program yang telah dirancang sejak awal.Kisah di Kasembon ini menjadi pengingat bahwa pengabdian masyarakat memiliki bahasa yang universal: membantu sesama.

Ketika warga membutuhkan solusi untuk limbah peternakan, peningkatan ekonomi, pendidikan, atau kesehatan, yang dibutuhkan adalah kerja nyata, kolaborasi, dan semangat membangun bersama.Peristiwa ini sekaligus membuka ruang refleksi bagi semua pihak. Indonesia dibangun di atas keberagaman, termasuk keberagaman cara pandang dan tradisi keagamaan. Dalam konteks tersebut, menjaga persaudaraan sosial menjadi modal penting untuk merawat harmoni kehidupan berbangsa.Pada akhirnya, yang akan dikenang masyarakat bukanlah polemik yang sempat muncul, melainkan manfaat yang ditinggalkan.

Jika program-program pemberdayaan mampu membantu warga, meningkatkan keterampilan masyarakat, dan memberikan dampak positif bagi desa, maka itulah esensi sejati dari sebuah pengabdian.Di Kasembon, mahasiswa UMM masih melangkah. Mereka tetap belajar dari masyarakat, dan masyarakat pun tetap menjadi bagian dari proses pembelajaran mereka. Di tengah perbedaan yang ada, pengabdian terus menemukan jalannya. Karena sejatinya, kerja kemanusiaan dan kerja kemasyarakatan selalu memiliki ruang untuk mempertemukan hati, membangun jembatan, dan menghadirkan manfaat bagi semua. (Red)


Bagikan Juga ke