Website Sang Pencerah – Yogyakarta (06/06/2026), Sabtu sore suasana Ruang Audio Visual Museum Muhammadiyah Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tak hanya dipenuhi diskusi ilmiah dan lembaran buku. Ada semangat besar yang sedang tumbuh: bagaimana Islam berbicara tentang bumi, lingkungan, dan masa depan peradaban manusia. Melalui kegiatan Bedah Buku “Ekologi Berkemajuan: Gerakan Lingkungan Berkelanjutan Muhammadiyah”, Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) bersama Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY mencoba menghadirkan ruang dialog yang tidak sekadar intelektual, tetapi juga menggugah kesadaran sosial.
Kegiatan yang digelar Sabtu, 6 Juni 2026 ini menjadi bagian dari ikhtiar Persyarikatan Muhammadiyah dalam memperluas makna dakwah. Bahwa dakwah hari ini tidak cukup hanya hadir di mimbar-mimbar pengajian, tetapi juga harus menjawab persoalan nyata umat manusia, termasuk ancaman kerusakan lingkungan. Kegiatan ini diikuti personalia Majelis Lingkungan Hidup PDM se- DIY, PWM DIY, Majelis Lingkungan Hidup, Majelis Pustaka dan Informasi dan beberapa aktivis lingkungan di tubuh Persyarikatan Muhammadiyah diajak hadir dan mengirimkan delegasi terbaiknya.

Forum tersebut menjadi momentum penting mempertemukan aktivis lingkungan, akademisi, pegiat literasi, hingga kader Muhammadiyah dalam satu ruang gagasan. Namun menariknya, yang dibedah bukan sekadar sebuah buku biasa, yang berjudul “Ekologi Berkemajuan” hadir sebagai refleksi sekaligus tawaran jalan baru tentang bagaimana umat Islam memandang alam semesta. Buku ini mencoba menjawab satu pertanyaan mendasar: apakah menjaga lingkungan juga bagian dari ibadah? Jawabannya: iya.
Dalam perspektif Muhammadiyah, merawat bumi merupakan bagian dari amanah kekhalifahan manusia. Alam tidak diciptakan untuk dieksploitasi tanpa batas, melainkan dijaga keseimbangannya demi keberlangsungan hidup generasi mendatang. Gagasan itulah yang menjadi napas utama buku tersebut.
Di tengah meningkatnya persoalan sampah, krisis air, polusi, hingga perubahan iklim global, Muhammadiyah ingin menunjukkan bahwa Islam memiliki panduan moral yang kuat dalam menjaga lingkungan hidup. Konsep Ekologi Berkemajuan sendiri lahir dari semangat Islam Berkemajuan yakni perpaduan nilai keagamaan, ilmu pengetahuan, dan aksi sosial yang berorientasi pada kemaslahatan umat. Karena itu, isu lingkungan tidak lagi dipandang sebagai urusan pinggiran. Ia menjadi bagian dari gerakan dakwah modern Muhammadiyah.
Dalam praktiknya, gerakan itu mulai diterjemahkan melalui berbagai langkah nyata. Dari pengelolaan sampah di sekolah Muhammadiyah, penghijauan lingkungan masjid, edukasi pengurangan plastik, konservasi air, hingga kampanye gaya hidup ramah lingkungan di tengah masyarakat. Buku ini juga menegaskan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil. Mematikan listrik yang tidak digunakan, membawa botol minum sendiri, mengurangi sampah plastik, menanam pohon, hingga menjaga kebersihan sungai adalah bentuk ibadah sosial yang sederhana namun berdampak besar bagi bumi.Nuansa intelektual dalam forum bedah buku semakin kuat dengan hadirnya sejumlah tokoh penting.
Wali Kota Yogyakarta, Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K), dijadwalkan menyampaikan keynote speech yang diperkirakan akan mengulas pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi keagamaan dalam menjaga lingkungan hidup. Sementara itu, Prof. Wajiran, S.S., M.A., Ph.D serta Prof. Dr. phil. Ridho Al-Hamdi, S.Fil.I., M.A akan menjadi pembahas utama yang mengupas isi buku dari berbagai perspektif mulai dari budaya, pendidikan, gerakan sosial, hingga pemikiran Islam kontemporer.

Acara sendiri akan dimulai sejak pukul 15.30 WIB dengan registrasi peserta, dilanjutkan pembukaan, kalam ilahi, sambutan panitia, amanat PWM DIY, sesi bedah buku, diskusi interaktif, hingga penutupan menjelang sore. Di balik susunan acara yang tampak formal itu, tersimpan pesan yang sangat sederhana namun mendalam: bumi membutuhkan lebih banyak manusia yang peduli. Melalui forum ini, Muhammadiyah DIY seakan ingin menegaskan bahwa literasi tidak boleh berhenti pada membaca buku semata. Literasi harus melahirkan kesadaran, lalu bergerak menjadi tindakan nyata. Sebab ketika ilmu pengetahuan bertemu nilai-nilai keislaman, lahirlah gerakan yang tidak hanya mencerdaskan manusia, tetapi juga menjaga kehidupan.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar pembangunan, Ekologi Berkemajuan hadir untuk mengingatkan satu hal penting:kemajuan sejati adalah ketika manusia mampu hidup berdampingan secara harmonis dengan alam semesta. (Red)