Website Sang Pencerah – Di tengah berbagai dinamika sosial yang berkembang dalam kehidupan bermasyarakat, sering kali muncul sebuah ungkapan yang terdengar menyejukkan: “Jangan mau diadu domba.” Kalimat ini kerap disampaikan ketika terjadi gesekan, perbedaan pandangan, atau konflik antarkelompok.Pada satu sisi, pesan tersebut mengandung nilai positif. Masyarakat memang perlu waspada terhadap upaya-upaya yang dapat memecah belah persatuan. Namun di sisi lain, ada pertanyaan yang patut direnungkan bersama: apakah setiap konflik selalu lahir karena adanya pihak yang mengadu domba?Sebuah analogi sederhana sering digunakan untuk menggambarkan kegelisahan yang dirasakan sebagian kalangan.
Bayangkan seseorang ditampar di depan banyak orang. Saat kejadian berlangsung, tidak ada yang datang mencegah. Tidak ada yang menegur pelaku. Tidak ada pula yang berdiri membela korban.Namun ketika korban hendak mempertanyakan atau membela dirinya, tiba-tiba muncul orang-orang yang berkata, “Sudahlah, sabar saja. Jangan mau diadu domba.”Di titik itulah muncul pertanyaan mendasar. Jika sejak awal memang tidak ada pihak yang mengadu domba, mengapa perhatian justru beralih kepada korban yang bereaksi? Mengapa fokus pembicaraan berubah dari tindakan yang memicu masalah menjadi peringatan agar tidak terprovokasi?
Analogi tersebut belakangan menjadi bahan refleksi bagi sebagian warga Muhammadiyah yang merasa mengalami situasi serupa. Dalam pandangan mereka, ketika muncul persoalan yang dianggap merugikan atau menyakiti, respons yang sering terdengar justru berupa ajakan untuk menahan diri dan tidak terpengaruh isu-isu tertentu.Tentu sikap sabar dan menjaga persatuan merupakan nilai luhur yang selalu diajarkan Muhammadiyah. Namun, kesabaran bukan berarti membiarkan ketidakadilan berlangsung tanpa koreksi. Persatuan juga bukan alasan untuk menghindari pembahasan terhadap akar persoalan yang sesungguhnya.
Di sinilah pentingnya membedakan antara upaya menjaga kerukunan dan kecenderungan menutupi masalah. Sebab dalam kehidupan sosial, konflik tidak selalu lahir karena provokasi pihak ketiga. Tidak sedikit persoalan muncul karena adanya tindakan nyata yang memang menimbulkan kekecewaan, ketidaknyamanan, atau rasa ketidakadilan. Ketika setiap persoalan langsung dijelaskan dengan istilah “ada yang mengadu domba”, tanpa disertai upaya memahami akar masalah, maka ada risiko terjadinya penyederhanaan yang berlebihan. Narasi tersebut bisa menjadi penjelasan instan yang mengalihkan perhatian dari substansi persoalan yang perlu diselesaikan.Padahal, dalam tradisi Islam, persaudaraan dan keadilan berjalan beriringan. Menjaga ukhuwah tidak berarti mengabaikan kebenaran. Sebaliknya, persaudaraan yang kokoh justru dibangun di atas keberanian untuk bersikap jujur, mengakui kesalahan, serta menyelesaikan persoalan secara adil dan bermartabat.
Muhammadiyah sejak awal berdiri dikenal sebagai gerakan yang mengedepankan dakwah pencerahan. Salah satu ruh pencerahan adalah keberanian melihat persoalan secara jernih, tidak terjebak prasangka, tetapi juga tidak menutup mata terhadap fakta yang ada. Karena itu, ajakan untuk tidak mudah diadu domba tetap relevan dan penting. Namun pesan tersebut hendaknya berjalan seiring dengan komitmen untuk mencari kebenaran, menegakkan keadilan, dan menyelesaikan masalah secara objektif.
Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan suasana yang tenang, tetapi juga rasa keadilan yang dirasakan bersama. Sebab ketenangan tanpa keadilan sering kali hanya menyimpan persoalan di bawah permukaan. Sementara persatuan yang dibangun di atas kejujuran dan keberanian menegakkan kebenaran akan melahirkan persaudaraan yang lebih kuat, dewasa, dan berkelanjutan. (Red)