Website Sang Pencerah – Pagi itu, suasana di Sportorium UMY terasa berbeda. Sejak matahari belum sepenuhnya meninggi, ratusan murid berseragam rapi bersama orang tua mulai memadati area acara. Senyum, pelukan hangat, hingga mata yang berkaca-kaca menjadi pemandangan yang menyatu dalam satu momen penting: pelepasan 421 murid kelas XII SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2025/2026, Kamis (7/5/2026).
Bukan sekadar acara kelulusan biasa, pelepasan ini menjadi penanda berakhirnya perjalanan tiga tahun penuh cerita, perjuangan, prestasi, dan proses pendewasaan para murid SMA Muhi. Di balik toga, jas, dan kebaya yang dikenakan, tersimpan kisah tentang tugas yang menumpuk, lomba yang melelahkan, persaingan akademik, organisasi, hingga mimpi besar yang kini mulai menemukan jalannya.

Sejak pukul 06.30 WIB, suasana sudah terasa hidup. Para peserta melakukan registrasi sambil sesekali mengabadikan momen bersama sahabat dan keluarga. Memasuki pra acara, panggung mulai dipenuhi penampilan solo vokal, alunan biola, tari kreasi tradisional, hingga video dokumenter perjalanan kelas XII yang membuat banyak hadirin tersenyum sekaligus terharu.
Ketika kirab pimpinan sekolah, wali kelas, dan pendamping memasuki ruang utama acara, suasana berubah menjadi semakin khidmat. Lagu Indonesia Raya, Sang Surya, dan Mars Muhi berkumandang penuh semangat, menegaskan identitas sekolah yang selama ini dikenal sebagai salah satu sekolah unggulan Muhammadiyah di Yogyakarta. Ketua panitia, Bayu Dwi Pinto Kurniawan, S.Sos., menyebut pelepasan tahun ini bukan hanya tentang pengumuman kelulusan, tetapi simbol perjalanan panjang yang berhasil dituntaskan seluruh murid.“Banyak tantangan yang dihadapi selama tiga tahun terakhir, tetapi seluruh murid mampu menyelesaikan pendidikan dengan baik dan penuh semangat,” ungkapnya.
Pernyataan itu terasa relevan dengan dinamika generasi muda hari ini yang tumbuh di tengah perubahan zaman serba cepat. Dunia digital, perkembangan kecerdasan buatan (AI), hingga kompetisi global menjadi tantangan baru yang harus dihadapi para lulusan.Plt. Kepala SMA Muhi, Drs. H. Herynugroho, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa kelulusan bukan garis akhir, melainkan gerbang awal menuju dunia yang lebih kompleks.“Tantangan digital, AI, dan globalisasi sedang menanti kalian. Namun kalian telah dibekali ilmu, karakter, dan nilai-nilai yang kuat selama belajar di SMA Muhi,” tuturnya.Ia juga memaparkan capaian sekolah yang berhasil menorehkan 736 prestasi dari tingkat regional hingga internasional. Angka tersebut menjadi gambaran budaya sekolah yang mendorong murid untuk terus berkembang, tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga olahraga, seni, riset, hingga organisasi.
Tingginya kepercayaan masyarakat terhadap SMA Muhi bahkan terlihat dari antusiasme penerimaan murid baru yang disebut telah dibuka hingga tahun 2030.Namun yang membuat SMA Muhi terasa istimewa bukan semata jumlah prestasinya. Di balik budaya kompetitif, sekolah ini tetap menjaga suasana kekeluargaan dan pendidikan karakter yang kuat.Ketua Komite Sekolah, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., menilai SMA Muhi berhasil membangun budaya belajar yang sehat dan menyenangkan.Menurutnya, murid tidak hanya diajak mengejar nilai akademik, tetapi juga dibentuk menjadi pribadi yang menghargai perbedaan, menjunjung adab, dan memiliki semangat kebersamaan.
Pesan yang tak kalah penting juga datang dari Ketua Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY, Achmad Muhamad, M.Ag. Ia mengingatkan para lulusan agar tetap menjaga identitas sebagai kader Muhammadiyah di mana pun berada.“Jaga salat, hormati guru dan orang tua, serta tetap bergaul dengan adab yang baik,” pesannya di hadapan ratusan lulusan.

Momen paling emosional terjadi saat prosesi pelepasan murid berlangsung. Satu per satu murid mengikuti prosesi prasetya alumni dan pelepasan atribut sekolah. Tepuk tangan bergema ketika Muhammad Athalla Sheehan dari kelas XII G diumumkan sebagai wisudawan terbaik. Namun suasana benar-benar berubah haru ketika sesi bakti guru dimulai. Dalam momen itu, para guru yang selama bertahun-tahun mendampingi murid mendapat penghormatan khusus. Banyak murid tampak menitikkan air mata saat memeluk guru mereka orang-orang yang selama ini bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga menjadi pembimbing, motivator, bahkan tempat bercerita.
Tangis haru dan tepuk tangan panjang memenuhi ruangan sebelum acara akhirnya ditutup dengan doa bersama pukul 11.00 WIB.Pelepasan 421 generasi SMA Muhi tahun ini seakan menjadi potret tentang bagaimana sekolah tidak hanya melahirkan lulusan cerdas, tetapi juga membentuk manusia yang siap menghadapi kehidupan. Di tengah dunia yang terus berubah cepat, SMA Muhi berupaya menanamkan satu hal penting: bahwa prestasi akan lebih bermakna jika berjalan berdampingan dengan karakter dan nilai kemanusiaan.
Kini, 421 lulusan itu akan melangkah menuju babak baru. Ada yang bersiap memasuki perguruan tinggi, meniti karier, mengembangkan mimpi, atau mengabdi di tengah masyarakat. Tetapi satu hal yang tampaknya akan tetap melekat dalam ingatan mereka: SMA Muhi bukan hanya tempat belajar, melainkan rumah yang menempa generasi berprestasi dan berkarakter. (Red)