Dari Tulisan yang Pernah Disobek hingga Menjadi Ketua Umum Muhammadiyah: Kisah Panjang Haedar Nashir Menjaga Api Jurnalistik
Web Sang Pencerah — Empat puluh dua tahun lalu, Haedar Nashir hanyalah seorang anak muda yang sedang belajar menjadi wartawan. Ia berkeliling mencari berita, naik bus, berjalan kaki, menumpang kereta, hingga bepergian ke berbagai daerah demi mendapatkan bahan tulisan. Hari ini, Kamis (13/08/2026) setelah perjalanan panjang itu, ia berdiri di hadapan insan pers Muhammadiyah dengan sebuah kartu yang barangkali sederhana bentuknya, tetapi sangat berarti bagi perjalanan hidupnya: Kartu Wartawan Utama Khusus dari Dewan Pers. Ada rasa haru sekaligus humor tipis dalam pengakuannya. “Setelah 42 tahun menjadi wartawan, saya baru dapat kartu wartawan dari Dewan Pers. Ini sesuatu yang sudah lama saya impikan.”
Kalimat itu disampaikan Haedar dalam puncak Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah di Auditorium KH Ahmad Azhar Basyir, Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta, Kamis (13/8/2026). Bagi orang lain, kartu tersebut mungkin sekadar identitas profesi. Tetapi bagi Haedar, kartu itu seperti sebuah tanda baca di tengah perjalanan panjang: sebuah titik yang menandai empat dekade lebih pengabdian kepada dunia jurnalistik.
Ditempa dengan Tulisan yang Dikembalikan dan Disobek
Perjalanan Haedar di dunia jurnalistik dimulai pada 1984 melalui Suara Muhammadiyah, media yang telah hidup sejak 1915. Saat itu, Haedar masih muda. Ia belum menjadi tokoh Muhammadiyah seperti yang dikenal publik sekarang. Ia harus melewati jalan panjang untuk belajar bagaimana sebuah berita dicari, ditulis, diperiksa, dan akhirnya layak dibaca Hampir lima tahun ia ditempa oleh para redaktur. Bukan dengan jalan yang selalu nyaman.
Ia dikirim mencari berita ke berbagai tempat. Transportasi seadanya menjadi bagian dari keseharian. Bus, kereta, berjalan kaki, hingga perjalanan ke luar Jawa dijalaninya. Dan ketika tulisan selesai, perjuangan belum berakhir. Ada tulisan yang dikembalikan. Ada yang penuh coretan tinta merah. Bahkan ada tulisan yang disobek di hadapannya. “Bayangkan masih muda dan ingin belajar, tapi diperlakukan seperti itu,” kenangnya.
Sakit hati? Tentu. Namun, justru dari situlah Haedar belajar. Tulisan diperbaiki. Dikirim kembali. Dikoreksi lagi. Ditulis ulang. Sampai akhirnya diterima. “Dari situ saya belajar menulis.” Pengalaman tersebut kelak menjadi salah satu fondasi penting dalam cara Haedar memandang pers: wartawan tidak cukup hanya bisa menulis, tetapi harus mau ditempa.
Dari Wartawan Lapangan hingga Pemimpin Redaksi
Perjalanan itu kemudian membawanya menjadi redaktur dan penulis kolom. Ia mulai memahami bahwa tulisan bukan sekadar rangkaian kata. Ada tanggung jawab, ketelitian, logika, etika, dan proses penyuntingan di belakangnya. Pengalaman ditempa secara keras itulah yang membuat Haedar mengaku tidak mudah menerima tulisan yang dibuat secara asal-asalan. Dunia jurnalistik kemudian mempertemukannya dengan media nasional. Ketika menjadi dosen muda di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Haedar mulai menulis untuk media seperti kompas. Menembus halaman Kompas pada masa itu bukan perkara gampang.
Ia harus berkali-kali mengirim tulisan sebelum akhirnya diterbitkan. Namun, ketika satu tulisan berhasil menembus halaman media bergengsi tersebut, pintu berikutnya mulai terbuka. Tulisan-tulisannya kemudian mulai ditunggu. Di Republika, misalnya, Haedar pernah diminta menulis refleksi secara rutin. Jika dihitung, ia menyebut telah menghasilkan lebih dari 240 tulisan utuh di media tersebut. Di tengah kesibukan sebagai akademisi dan tokoh Muhammadiyah, dunia jurnalistik tetap menjadi bagian penting dari hidupnya.
Ketika Menjadi Ketum Muhammadiyah, Ia Masih Ingin Menulis
Menariknya, kecintaan Haedar terhadap pers tidak berhenti ketika ia memasuki panggung kepemimpinan Muhammadiyah. Pada Muktamar ke-47 tahun 2015, Haedar dipercaya menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah. Namun ada satu hal yang tetap ingin dipertahankannya: dunia jurnalistik. Ia bahkan pernah meminta agar tetap bisa menjalankan tugas sebagai Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah. “Saya minta ingin tetap bertahan menjadi Pemred Suara Muhammadiyah karena dunia saya di situ.”
Kalimat tersebut mungkin menjadi salah satu gambaran paling kuat mengenai hubungan Haedar dengan dunia pers. Ia tidak sekadar pernah menjadi wartawan. Ia tumbuh bersama dunia jurnalistik.
Dulu Mewawancarai, Kemudian Diwawancarai
Salah satu kisah yang paling menarik dari perjalanan jurnalistik Haedar adalah pertemuannya dengan antropolog Jepang, Mitsuo Nakamura, yang dikenal pernah melakukan penelitian mengenai Muhammadiyah di Kotagede. Dulu, Haedar datang sebagai wartawan. Ia mewawancarai Nakamura dengan penuh kekaguman. Waktu berjalan. Situasi berubah. Nakamura kembali datang dan justru meminta Haedar untuk diwawancarai di kantor Suara Muhammadiyah. Kali ini posisinya berbeda.
Orang yang dahulu diwawancarai oleh Haedar sebagai wartawan, kemudian mewawancarainya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah. “Itulah jalan hidup. Dulu wawancara dengan kagum, sampai beliau wawancara saya sebagai Ketua Umum.” Haedar menyebutnya sederhana: “Itulah jalan Allah.” Sebuah kalimat pendek, tetapi menggambarkan betapa panjang dan tak terduganya perjalanan seseorang dalam kehidupan.
Pers Bukan Sekadar Memberitakan, tetapi Mencari Kebenaran
Dari pengalaman 42 tahun itu, Haedar membawa pesan yang lebih luas. Menurutnya, pers adalah dunia yang mulia. Dalam demokrasi modern, pers memiliki posisi penting sebagai salah satu kekuatan yang menghadirkan informasi publik, perspektif alternatif, sekaligus kontrol terhadap berbagai kekuatan yang ada. Karena itu, wartawan tidak boleh hanya melihat satu sisi. Prinsip cover both sides menjadi penting.
Haedar menggunakan perspektif dramatologi untuk menggambarkan kehidupan sosial sebagai sebuah panggung. Ada panggung depan. Ada pula panggung belakang. Di panggung depan, orang dapat menampilkan wajah yang telah dipoles. Sementara di belakang panggung, sering kali terdapat realitas yang berbeda. “Kalau kita ingin tahu realitas sebenarnya, kita harus tahu keduanya, depan dan belakang, lalu cari titik tumpu kebenarannya di situ.”
Namun mencari kebenaran, kata Haedar, tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang benar dan siapa yang salah. Sebab ada persoalan etika yang harus diperhitungkan. “Boleh jadi ada yang benar, tapi tidak baik.” Di sinilah pers dituntut tidak hanya cerdas secara rasional, tetapi juga memiliki pertimbangan moral dan spiritual.
Pers di Tengah Kepentingan Politik dan Bisnis
Tantangan wartawan hari ini tentu berbeda dengan masa ketika Haedar memulai kariernya. Dunia media telah berubah. Pers kini berada di tengah industri yang berkelindan dengan kepentingan ekonomi, pemilik modal, bahkan kepentingan politik. Ketika kekuatan ekonomi dan politik bertemu dalam kepemilikan media, independensi pers menghadapi tantangan tersendiri. Belum lagi munculnya media sosial. Semua orang kini bisa menjadi “wartawan” bagi dirinya sendiri.
Informasi dapat dibuat, disebarkan, dan menjadi viral hanya dalam hitungan menit tanpa melalui proses verifikasi dan penyuntingan. Haedar menyebut media sosial memang telah menjadi ruang informasi yang liar. “Kalau media sosial, itu memang sudah liar, tapi itulah dunia kita saat ini.” Justru karena itulah literasi menjadi semakin penting.
Mengapa Pers Harus Bertemu dengan Literasi?
Bagi Haedar, keputusan Muhammadiyah memasukkan kata literasi dalam peringatan Hari Pers bukan sekadar tambahan istilah. Islam sendiri memiliki tradisi literasi yang sangat kuat. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad ﷺ dimulai dengan perintah: Iqra, Bacalah.
Dari sinilah Haedar melihat bahwa tradisi membaca, mencari pengetahuan, memahami informasi, dan menyampaikan kebenaran memiliki akar yang kuat dalam tradisi Islam. Literasi menjadi semakin penting ketika masyarakat hidup di tengah banjir informasi. Hari ini masalahnya bukan lagi kekurangan informasi. Justru sebaliknya.
Informasi terlalu banyak, tetapi kebenaran tidak selalu mudah ditemukan. Karena itu, masyarakat membutuhkan kemampuan untuk membaca secara kritis, memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan memahami konteks. Di sinilah pers profesional memiliki peran penting.
Wartawan Harus “Mengayuh di Antara Banyak Karang”
Haedar memahami bahwa pekerjaan wartawan tidak selalu mudah. Ada tekanan ekonomi. Ada kepentingan politik. Ada tuntutan pemilik media. Ada ekspektasi publik. Ada pula perubahan teknologi yang begitu cepat. Wartawan seolah harus mengayuh perahu di antara banyak karang. Tetapi Haedar tetap optimistis. “Dengan kecerdasan, dengan kepiawaian kita dunia pers untuk tetap menyajikan informasi yang terbaik bagi masyarakat, bagi publik, sesulit apa pun kita akan bisa menampilkan kebenaran.”
Menurutnya, pemerintah pun membutuhkan pers. Eksekutif, legislatif, yudikatif, TNI, Polri, dan berbagai lembaga negara lainnya membutuhkan informasi, kritik, serta masukan dari media. Sebab bangsa yang sehat bukanlah bangsa yang tidak pernah dikritik. Sebaliknya, bangsa akan berkembang ketika kritik digunakan sebagai bahan perbaikan. “Bangsa akan menjadi lebih maju.”
Kritik Bukan Musuh, tetapi Ikhtiar Memajukan Bangsa
Haedar juga mengingatkan bahwa kritik terhadap pemerintah, DPR, lembaga hukum, maupun institusi negara lainnya semestinya tidak selalu dipandang sebagai ancaman. Kritik dari ormas, kampus, akademisi, maupun pers dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Yang penting adalah orientasinya. Bukan sekadar gaduh. Bukan sekadar viral. Bukan sekadar mencari kesalahan. Melainkan menghadirkan kebenaran, kebaikan, dan sesuatu yang penting bagi bangsa dan negara. “Semangat kita adalah semangat untuk menampilkan kebenaran, kebaikan dan hal-hal yang penting untuk kepentingan bangsa dan negara.”
Dari Kartu Wartawan Menuju Pesan untuk Indonesia
Pada akhirnya, kartu wartawan yang diterima Haedar bukan sekadar penghargaan personal. Di balik kartu itu ada cerita tentang seorang anak muda yang dahulu belajar menulis dengan tinta merah dari redakturnya. Ada cerita tentang perjalanan menggunakan bus dan kereta demi mencari berita. Ada cerita tentang tulisan yang dikembalikan. Ada cerita tentang tulisan yang disobek. Ada pula cerita tentang bagaimana seorang wartawan kemudian dipercaya menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah.
Dan setelah 42 tahun, ia kembali menerima pengakuan formal sebagai wartawan. Perjalanan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa profesi jurnalistik dibangun melalui proses. Bukan sekadar memiliki kartu. Bukan sekadar memiliki media. Bukan pula sekadar mampu membuat berita viral. Tetapi melalui disiplin mencari fakta, keberanian menyampaikan kebenaran, kemampuan memahami banyak perspektif, dan kesediaan mempertanggungjawabkan setiap kata.
Bagi Haedar, Indonesia hari ini membutuhkan lebih banyak kebersamaan. Bukan kebersamaan yang berhenti pada simbol, melainkan kebersamaan yang menghasilkan kerja nyata untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Indonesia, menurutnya, memiliki titik temu dalam Pancasila dan UUD 1945. Perbedaan pandangan tidak harus berakhir menjadi perpecahan. Sebab bangsa dibangun dari kehendak bersama. “Masyarakat yang jernih, termasuk pers dan ormas, tidak menuntut banyak. Hanya menuntut arah bangsa yang benar.”
Kalimat itu terasa seperti pesan penutup sekaligus kompas. Pers tidak harus selalu menjadi pihak yang paling keras. Tetapi pers harus menjadi salah satu pihak yang paling jernih. Ketika informasi semakin deras, ketika media sosial semakin bising, ketika kepentingan politik dan ekonomi semakin kompleks, tugas pers justru semakin penting: membantu masyarakat membedakan fakta dan opini, menemukan kebenaran di antara banyak versi, serta menjaga agar kritik tetap menjadi energi untuk memperbaiki bangsa. Dan bagi Muhammadiyah, perjuangan itu akan terus dilanjutkan melalui gagasan Islam Berkemajuan dan prinsip Darul Ahdi wa Syahadah.
Setelah 42 tahun menjadi wartawan, Haedar Nashir akhirnya memperoleh kartu yang telah lama ia impikan. Namun, mungkin makna terbesar kartu itu bukan pada benda yang kini berada di tangannya. Melainkan pada empat puluh dua tahun perjalanan yang berada di belakangnya.
Perjalanan seorang wartawan yang belajar dari coretan tinta merah, tumbuh dari berita-berita lapangan, menulis di media nasional, memimpin media Muhammadiyah, hingga akhirnya memimpin Muhammadiyah. Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa dalam dunia pers, kata-kata bisa menjadi profesi, tetapi kebenaran adalah tanggung jawab. Dan ketika pers mampu menjaga keduanya, media tidak hanya memberitakan zaman. Pers ikut membantu menentukan ke mana bangsa ini berjalan.