Website Sang Pencerah — Dari Waso hingga Dusun Binaan, rumah-rumah warga dilaporkan nyaris seluruhnya hancur. Ratusan keluarga kini bertahan di tenda terpal dengan keterbatasan penerangan, air bersih, sanitasi, dan layanan medis. Satar Kampas Malam di Waso, Desa Satar Kampas, terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Bukan hanya karena warga kehilangan tempat tinggal, tetapi karena sebagian dari mereka harus melewati malam di bawah tenda terpal dengan fasilitas yang serba terbatas. Kondisi tersebut terlihat langsung dari lokasi setelah dilakukan peninjauan lapangan pada Senin (17/8/2026).
Di Waso, sedikitnya 320 kepala keluarga (KK) terdampak. Kondisi rumah warga disebut sangat parah, dengan sekitar 99 persen bangunan mengalami kerusakan hingga hancur. Warga yang kehilangan tempat tinggal kini bertahan di lokasi pengungsian menggunakan sekitar 14 tenda terpal. Namun, persoalan tidak berhenti pada kehilangan rumah. Di tengah kondisi pengungsian yang minim fasilitas, terdapat sekitar 20 warga yang mengalami luka, antara lain patah tulang, benturan, maupun keluhan sakit, yang hingga malam hari dilaporkan belum mendapatkan penanganan medis.
Situasi pengungsian pun memprihatinkan. Tenda-tenda warga masih berada dalam kondisi minim penerangan, sementara fasilitas MCK, sanitasi, dan air bersih belum tersedia secara memadai. Bagi warga yang telah kehilangan rumah, tenda bukan sekadar tempat berlindung. Tenda menjadi ruang tidur, ruang berkumpul keluarga, sekaligus tempat menunggu kabar tentang bantuan yang mereka harapkan segera datang.
Masjid Baburrahman Rata dengan Tanah
Kerusakan juga menyentuh fasilitas ibadah masyarakat. Masjid Baburrahman di Waso dilaporkan rata dengan tanah. Tempat yang sebelumnya menjadi ruang ibadah dan berkumpul warga kini tinggal menyisakan jejak kehancuran. Bagi masyarakat setempat, runtuhnya masjid bukan hanya kehilangan sebuah bangunan. Ia juga menjadi simbol betapa dahsyatnya dampak gempa yang menghantam kawasan tersebut.
Dusun Binaan: 33 KK Kehilangan Rumah
Kondisi serupa ditemukan di Dusun Binaan, Desa Satar Kampas.Sedikitnya 33 KK terdampak dengan rumah-rumah warga dilaporkan mengalami kehancuran. Mereka kini harus berteduh dan menjalani hari-hari di tenda pengungsian. Jumlah tersebut menambah panjang daftar keluarga yang membutuhkan tempat tinggal sementara, makanan, air bersih, layanan kesehatan, penerangan, serta perlengkapan dasar lainnya.
Sementara itu, Kampung Maki tercatat memiliki sekitar 115 KK yang juga masuk dalam wilayah terdampak. Data mengenai kondisi kerusakan dan kebutuhan warga di lokasi tersebut masih terus dihimpun. Adapun kondisi di posko ranting hingga laporan ini disusun masih belum diperoleh secara lengkap.
Bukan Sekadar Bantuan Logistik
Gambaran dari lapangan menunjukkan bahwa kebutuhan warga terdampak tidak sebatas makanan dan pakaian. Ketika malam tiba dan tenda pengungsian masih minim penerangan, persoalan keamanan dan kenyamanan menjadi tantangan tersendiri. Ketika MCK belum tersedia, sanitasi menjadi persoalan yang harus segera diantisipasi. Ketika air bersih sulit diperoleh, kebutuhan dasar pengungsi berubah menjadi persoalan kemanusiaan yang mendesak. Dan ketika puluhan warga mengalami luka tetapi belum memperoleh pemeriksaan medis, kebutuhan terhadap tim kesehatan dan layanan pengobatan menjadi semakin penting.
Karena itu, penanganan pascagempa membutuhkan gerak cepat dan terkoordinasi mulai dari evakuasi, pemeriksaan korban luka, penyediaan obat-obatan, air bersih, MCK darurat, penerangan, makanan, selimut, perlengkapan bayi dan perempuan, hingga tempat tinggal sementara yang lebih layak.
Mereka Tidak Meminta Banyak
Di balik angka 320 KK, 33 KK, dan 115 KK, ada keluarga-keluarga yang malam ini mungkin hanya ingin satu hal sederhana: merasa aman. Rumah boleh runtuh. Masjid boleh rata dengan tanah. Barang-barang berharga boleh hilang. Namun harapan warga tidak boleh ikut terkubur bersama reruntuhan.
Laporan dari lapangan ini menjadi pengingat bahwa setelah gempa berhenti mengguncang tanah, perjuangan para korban justru baru dimulai. Kini, perhatian, kepedulian, dan bantuan nyata sangat dibutuhkan agar warga Satar Kampas tidak merasa berjuang sendirian menghadapi malam-malam panjang di pengungsian.
Sang Pencerah akan terus mengikuti perkembangan kondisi warga terdampak dan menghimpun informasi mengenai kebutuhan kemanusiaan di lapangan.Catatan: Data dalam laporan ini merupakan informasi awal hasil peninjauan lapangan dan dapat berubah seiring proses pendataan serta asesmen resmi oleh pihak terkait.