September 11, 2026

Bantuan Belum Banyak Datang, Pengungsi Gempa NTT di Posko SMK Muhammadiyah Berjuang Bertahan

file_00000000f9b8820bb0734740c0bdd1a7
Bagikan Juga ke

Website Sang Pencerah — Di tengah suasana panik dan ketidakpastian pascagempa yang mengguncang wilayah Ende dan sekitarnya, ratusan hingga ribuan warga terdampak kini harus bertahan di tempat-tempat pengungsian dengan segala keterbatasan. Salah satu titik evakuasi yang menjadi tumpuan warga berada di SMK Muhammadiyah Manggarai Timur, Kelurahan Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bangunan sekolah yang dalam kondisi normal menjadi ruang belajar, kini berubah fungsi menjadi pusat kemanusiaan. Di tempat ini, warga yang kehilangan tempat tinggal maupun mereka yang masih diliputi trauma akibat gempa dan kekhawatiran terhadap gempa susulan berdatangan untuk mencari perlindungan.Namun, di balik aktivitas relawan yang terus bergerak, tersimpan persoalan yang tak kalah mendesak: ketersediaan bantuan dan logistik pengungsi masih sangat terbatas.Arus evakuasi yang terus bertambah membuat kebutuhan dasar semakin besar. Pos Pelayanan Sementara dan Lokasi Evakuasi kini membutuhkan dukungan berbagai pihak agar kebutuhan warga dapat terpenuhi, terutama untuk tempat tinggal sementara, pangan, kesehatan, sanitasi, penerangan hingga kebutuhan anak-anak.

Bukan Sekadar Tempat MengungsiBagi warga terdampak, pengungsian bukan hanya persoalan mencari tempat yang aman dari ancaman gempa susulan.Mereka harus memikirkan bagaimana anak-anak tidur dengan layak, bagaimana keluarga mendapatkan makanan, bagaimana kebutuhan bayi dan lansia terpenuhi, hingga bagaimana komunikasi dan penerangan tetap berjalan ketika akses di sejumlah wilayah hampir terputus. Karena itu, kebutuhan pertama yang sangat mendesak adalah tempat tinggal sementara.Posko membutuhkan sedikitnya 200 unit tenda keluarga, 200 alas tidur atau matras, serta 200 selimut dan sarung. Perlengkapan tersebut menjadi penting karena tidak semua pengungsi dapat beristirahat dengan layak setelah kehilangan atau meninggalkan rumah mereka.Di sisi lain, bencana juga memutus sementara rutinitas pendidikan anak-anak.

Sebanyak 500 paket perlengkapan sekolah dan seragam dibutuhkan untuk mendukung kegiatan edukasi darurat sekaligus trauma healing bagi anak-anak di lokasi pengungsian.Sebab, bagi anak-anak korban bencana, kembali membuka buku, bermain, belajar, dan berinteraksi dengan teman sebaya bukan sekadar aktivitas biasa. Itu dapat menjadi bagian dari upaya mengembalikan rasa aman dan harapan setelah mengalami situasi yang menakutkan.

Ketika Persediaan Pangan Mulai MenipisKebutuhan pangan menjadi persoalan lain yang tak bisa ditunda.Para pengungsi membutuhkan beras, mi instan, makanan kaleng siap saji, air minum kemasan, susu, bumbu dapur, serta berbagai kebutuhan sembako lainnya. Kondisi darurat membuat makanan yang praktis, mudah disimpan dan cepat didistribusikan menjadi sangat penting. Apalagi, keterbatasan akses menuju sejumlah lokasi membuat distribusi bantuan tidak selalu dapat dilakukan dengan mudah. Di tengah situasi tersebut, kebutuhan air bersih dan sanitasi juga harus mendapat perhatian serius.Perlengkapan mandi, popok bayi, popok untuk lansia, pampers, serta tisu basah menjadi bagian dari daftar kebutuhan yang terus dibutuhkan di posko.Bencana tidak berhenti pada kerusakan bangunan. Ketika banyak orang berkumpul dalam satu lokasi dengan sarana sanitasi terbatas, risiko munculnya berbagai penyakit ikut meningkat.

Tim medis di posko kesehatan pun harus bersiap menghadapi kemungkinan penyakit pascabencana, seperti ISPA, diare dan infeksi kulit. Obat-obatan pertolongan pertama untuk luka luar serta vitamin juga sangat diperlukan.Listrik Padam, Komunikasi TerbatasPersoalan semakin kompleks ketika penerangan dan komunikasi ikut terganggu. Akses menuju sejumlah wilayah terdampak disebut hampir terputus. Kondisi tersebut membuat posko membutuhkan genset, lilin, bahan bakar bensin dan solar, serta perlengkapan penerangan darurat lainnya.Genset bukan sekadar alat penerangan. Dalam situasi bencana, listrik dibutuhkan untuk mendukung komunikasi, pelayanan kesehatan, pengisian perangkat komunikasi hingga berbagai kegiatan operasional posko.

Bensin dan solar juga menjadi kebutuhan vital untuk kendaraan yang digunakan mendistribusikan bantuan menuju titik-titik yang sulit dijangkau.Dengan kata lain, setiap liter bahan bakar di tengah kondisi darurat dapat memiliki arti penting bagi keselamatan dan kelangsungan pelayanan kemanusiaan.

Dari SMK Muhammadiyah untuk Kemanusiaan

Di tengah keterbatasan tersebut, SMK Muhammadiyah Manggarai Timur kini tidak hanya menjadi bangunan sekolah.Tempat itu menjadi ruang bertemunya harapan warga, kerja keras relawan, pelayanan kesehatan dan upaya penanganan darurat.Namun, semangat gotong royong di lokasi membutuhkan dukungan yang lebih luas.Koordinator Lapangan Pos Pelayanan Sementara mengharapkan bantuan dari pemerintah daerah, lembaga kemanusiaan, organisasi masyarakat, dunia usaha, komunitas, relawan maupun masyarakat luas agar kebutuhan mendesak para pengungsi dapat segera dipenuhi.Bantuan tidak harus selalu dalam jumlah besar.Sebungkus makanan, sebotol air, selimut, obat-obatan, perlengkapan bayi, seragam sekolah, hingga bahan bakar untuk menghidupkan genset. Ssemuanya dapat menjadi bagian dari rantai pertolongan bagi warga yang sedang menghadapi masa sulit.

Saatnya Bergerak Bersama

Gempa mungkin mengguncang tanah, merusak rumah dan memaksa warga meninggalkan tempat tinggalnya. Tetapi bencana tidak boleh memutus harapan.Di Pota, harapan itu kini tumbuh di sebuah sekolah Muhammadiyah yang berubah menjadi rumah sementara bagi warga terdampak. Karena itu, dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan agar para pengungsi tidak merasa berjalan sendirian menghadapi masa-masa sulit ini.

Bagi pemerintah, lembaga kemanusiaan, donatur, komunitas, relawan maupun masyarakat yang hendak menyalurkan bantuan, distribusi dapat dilakukan langsung ke Pos Pelayanan Sementara dan Lokasi Evakuasi SMK Muhammadiyah Manggarai Timur, Kelurahan Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.

Di tempat itu, bantuan bukan sekadar barang.Ia adalah pesan bahwa di tengah bencana, masih ada tangan-tangan yang peduli. Masih ada solidaritas. Dan masih ada harapan untuk bangkit bersama.


Bagikan Juga ke