Website Sang Pencerah – Di sebuah ruang pertemuan di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Rabu (12/8/2026), para pengelola media afiliasi Muhammadiyah berkumpul bukan sekadar untuk berbagi pengalaman dan strategi pengelolaan media. Mereka sedang menghadapi satu pertanyaan besar yang kini mengguncang dunia pers global: bagaimana jurnalisme tetap hidup, dipercaya, dan bermakna di tengah gelombang disrupsi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI)? Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah paparan Wakil Ketua Dewan Pers periode 2025–2028, Totok Suryanto, dalam Jambore Media AfiliasiMu #3.
Bagi sebagian orang, perkembangan teknologi digital dan AI mungkin tampak sebagai kabar baik. Informasi menjadi lebih cepat, lebih mudah diakses, dan dapat diproduksi dalam hitungan detik. Namun di balik kemudahan tersebut, terdapat tantangan besar yang perlahan menggerus fondasi industri media. “Dunia media sedang mengalami perubahan yang sangat mendasar,” demikian pesan yang tergambar dari pemaparan Totok.
Ketika Platform Menjadi Penguasa Baru
Dulu, media massa menjadi gerbang utama informasi. Surat kabar, radio, dan televisi memegang kendali atas distribusi berita kepada masyarakat. Kini situasinya berubah drastis. Arus informasi lebih banyak mengalir melalui platform digital dan mesin pencari yang dikendalikan algoritma. Pendapatan iklan yang dahulu menjadi tulang punggung media konvensional berpindah ke perusahaan-perusahaan teknologi global. Media tidak lagi hanya bersaing dengan sesama media. Mereka kini harus berebut perhatian publik dengan jutaan konten yang setiap hari memenuhi layar ponsel masyarakat. Dalam situasi tersebut, banyak ruang redaksi menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan. Sebagian beradaptasi, sebagian lainnya kesulitan bertahan.
Jurnalis dan Kreator Konten: Batas yang Semakin Kabur
Perubahan lain yang tak kalah besar adalah kaburnya batas antara jurnalis profesional dan kreator konten. Di era media sosial, siapa pun dapat menjadi penyampai informasi. Dengan kamera ponsel dan akun media sosial, seseorang dapat menjangkau jutaan orang tanpa melalui proses redaksional. Fenomena ini membawa dua sisi sekaligus. Di satu sisi, demokratisasi informasi membuka ruang partisipasi publik yang lebih luas. Namun di sisi lain, masyarakat sering kali kesulitan membedakan mana informasi yang telah diverifikasi dan mana yang hanya berdasarkan opini, asumsi, atau bahkan rekayasa. Jurnalisme yang selama ini dibangun di atas prinsip verifikasi kini berhadapan dengan budaya viralitas yang sering kali lebih mengutamakan kecepatan dibanding akurasi.
Generasi Scroll dan Tantangan Ruang Gema
Perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi juga menjadi perhatian serius.Saat ini, semakin banyak orang mendapatkan berita melalui video pendek di TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts. Informasi dikemas singkat, cepat, dan menarik secara visual. Model konsumsi seperti ini memang efektif menarik perhatian. Namun ada konsekuensi yang tidak sederhana. Masyarakat berpotensi terjebak dalam echo chamber atau ruang gema informasi, yaitu kondisi ketika seseorang hanya menerima informasi yang sesuai dengan pandangan yang sudah dimilikinya. Akibatnya, ruang dialog menjadi semakin sempit dan polarisasi sosial semakin mudah terjadi.Di tengah derasnya arus konten, informasi yang paling sering muncul belum tentu yang paling benar.
AI, Deepfake, dan Krisis
KepercayaanTantangan terbesar mungkin datang dari perkembangan AI generatif yang melaju jauh lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.Teknologi kini mampu membuat foto, video, suara, hingga narasi yang tampak sangat meyakinkan meski sebenarnya tidak pernah terjadi.Deepfake menjadi ancaman nyata.Dalam hitungan menit, seseorang dapat menciptakan video tokoh publik yang seolah-olah mengucapkan sesuatu yang tidak pernah diucapkan.
Informasi palsu dapat menyebar lebih cepat daripada proses klarifikasinya. Pada saat yang sama, jumlah media daring yang tidak terverifikasi terus bertambah. Publik pun semakin sulit membedakan mana produk jurnalistik yang kredibel dan mana yang sekadar mengejar klik. Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa kontrol, maka yang terancam bukan hanya bisnis media, melainkan kepercayaan masyarakat terhadap kebenaran itu sendiri.
Muhammadiyah Harus Menjadi Penjernih
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Totok Suryanto melihat media afiliasi Muhammadiyah memiliki posisi yang sangat strategis.Bukan sekadar sebagai penyampai berita, tetapi sebagai penjernih informasi di tengah derasnya arus disinformasi. Menurutnya, kekuatan utama media pers tetap terletak pada verifikasi. Setiap informasi harus melalui proses check and recheck, menggunakan sumber yang jelas, otoritatif, dan dapat dipertanggungjawabkan. Inilah pembeda paling mendasar antara media pers dan media sosial. Ketika banyak pihak berlomba menjadi yang tercepat, media Muhammadiyah justru harus menjadi yang paling dapat dipercaya.AI Boleh Digunakan, Etika Tidak Boleh DitinggalkanTotok juga menegaskan bahwa AI bukan musuh yang harus dijauhi. Sebaliknya, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung kerja jurnalistik, mulai dari riset data, transkripsi wawancara, pengolahan informasi, hingga pembuatan infografis.
Namun pemanfaatannya harus dilakukan secara bertanggung jawab dan tetap berpedoman pada Peraturan Dewan Pers Nomor 1 Tahun 2025 tentang Pedoman Penggunaan AI dalam Karya Jurnalistik. Teknologi boleh membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi keputusan editorial tetap harus berada di tangan manusia.Karena pada akhirnya, AI dapat menghasilkan informasi. Namun hanya manusia yang mampu memberikan pertimbangan moral, konteks sosial, dan nilai kemanusiaan dalam sebuah karya jurnalistik.
Menjaga Masa Depan Jurnalisme
Selain memperkuat kualitas pemberitaan, media afiliasi Muhammadiyah juga didorong untuk ikut mengawal implementasi Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2024 tentang Publisher Rights. Regulasi tersebut menjadi harapan baru agar media mendapatkan kompensasi yang lebih adil dari platform digital yang selama ini menikmati keuntungan besar dari distribusi konten berita.Lebih dari sekadar persoalan ekonomi, kebijakan ini merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekosistem pers yang sehat. Sebab tanpa media yang kuat dan independen, demokrasi akan kehilangan salah satu pilar terpentingnya.
Cahaya yang Tak Boleh Padam
Menutup paparannya, Totok Suryanto menyampaikan pesan yang menggugah sekaligus mengingatkan semua insan pers tentang hakikat profesi jurnalistik.“Jurnalisme adalah pencarian kebenaran dalam suasana yang mendesak. Tanpa etika, kebenaran hanyalah sekadar informasi tanpa jiwa. ”Kalimat itu seakan menjadi kompas bagi media Muhammadiyah di tengah zaman yang terus berubah. Ketika algoritma menentukan apa yang muncul di layar, ketika AI mampu menciptakan realitas semu, dan ketika kecepatan sering mengalahkan ketelitian, jurnalisme tetap memiliki satu tugas mulia: menghadirkan kebenaran yang mencerahkan. Dan di situlah media afiliasi Muhammadiyah ditantang untuk terus menjadi cahaya bukan yang paling gaduh, tetapi yang paling dipercaya. (Red)